2.3.a.8. Koneksi Antarmateri - Modul 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Saya Amir Alfian Calon Guru Penggerak Angkatan 10 dari Kabupaten Melawi, kali ini akan menyampaikan Koneksi Antarmateri - Modul 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK, dengan kaitannya dengan Modul sebelumnya.
Refleksi saya mengenai pengalaman belajar di modul 2.3 Coaching untuk supervisi Akademik menunjukkan bahwa coaching lebih berfokus pada membantu seseorang menggali potensi yang ada pad dirinya untuk memecahkan permasalahan yang dai hadapinya, bukan hanya sekadar mengajarinya ataupun memberikan solusi tanpa di minta oleh coachee. Coaching berbeda dari mentoring, konseling, fasilitasi, dan pelatihan. Stone (2002) menjelaskan bahwa mentoring adalah proses di mana seorang teman, guru, atau pembimbing menggunakan pengalamannya untuk membantu seseorang mengatasi kesulitan dan menghindari bahaya. Gibson dan Mitchell (2003) mendefinisikan konseling sebagai hubungan bantuan antara konselor dan klien yang berfokus pada pertumbuhan pribadi dan penyesuaian diri, serta pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Shwarz (1994) menggambarkan fasilitasi sebagai proses di mana seseorang yang diterima oleh semua anggota kelompok secara netral dan tanpa otoritas membuat kebijakan, membantu kelompok memperbaiki cara mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah, serta membuat keputusan guna meningkatkan efektivitas kelompok. Menurut Noe, Hollenbeck, Gerhart & Wright (2003), pelatihan adalah upaya terencana untuk memfasilitasi pembelajaran yang berkaitan dengan pekerjaan, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku karyawan.
Coaching merupakan proses kerjasama yang berfokus pada solusi, orientasi hasil, dan terstruktur, di mana seorang coach memfasilitasi peningkatan kinerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan perkembangan pribadi dari seorang coachee (Grant, 1999). Coaching dianggap sebagai kunci untuk membuka potensi seseorang, sehingga dapat memaksimalkan kinerjanya (Whitmore, 2003). Coaching adalah “sebagai“…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” (International Coach Federation - ICF).
Pengalaman belajar tentang coaching untuk supervisi akademik membuat saya merasa senang, terkejut, dan beruntung. Belajar materi ini seperti berada dalam ruang kemerdekaan belajar sejati. Sebagai coachee, saya merasa dihargai dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali solusi dari masalah saya. Sebagai coach, saya belajar pentingnya mendengarkan aktif dan memberikan kesempatan kepada coachee menemukan solusi tanpa intervensi. Sebagai pengamat, saya belajar melihat sisi baik orang lain tanpa memberi penilaian.
Dalam peran saya sebagai coach di sekolah, saya berkomitmen untuk mendukung guru dalam meraih tujuan pembelajaran mereka dengan pendekatan yang personal dan empatik. Saya membantu mereka mengembangkan keterampilan reflektif dan kritis, serta memberikan umpan balik konstruktif yang dapat diterapkan dalam praktik pengajaran sehari-hari. Melalui proses coaching, saya berusaha untuk mendorong inovasi dan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
Dengan berbagai pendekatan ini, saya berusaha memastikan bahwa peran saya sebagai coach benar-benar memberikan dampak positif bagi pengembangan profesional guru dan pembelajaran siswa.
Dalam proses belajar, saya berusaha memberikan pembelajaran yang bermakna dan kontekstual kepada siswa dengan kehadiran penuh dan kesejahteraan. Namun, saya masih perlu meningkatkan kompetensi mindfulness.
Keterkaitan modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dan modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) dengan coaching menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memerlukan guru sebagai coach untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa. Pembelajaran Sosial Emosional dilakukan kolaboratif oleh komunitas sekolah untuk menumbuhkan kompetensi sosial-emosional siswa, yang sejalan dengan proses coaching.
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), Coaching untuk Supervisi Akademik, dan Pembelajaran Berdiferensiasi memiliki keterkaitan yang erat dan saling mendukung dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang holistik, inklusif, dan efektif. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), Coaching untuk Supervisi Akademik, dan Pembelajaran Berdiferensiasi saling terkait erat dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang holistik dan inklusif.
- PSE berfokus pada pengembangan kompetensi sosial emosional siswa seperti kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
- Coaching untuk Supervisi Akademik menggunakan pendekatan yang memberdayakan guru (coachee) untuk mengembangkan potensi dan keterampilan mereka melalui proses reflektif dan kolaboratif, yang juga mendukung penerapan kompetensi sosial emosional dalam interaksi mereka dengan siswa.
- Pembelajaran Berdiferensiasi menuntut guru untuk memahami dan memenuhi kebutuhan belajar individu siswa berdasarkan kesiapan, minat, dan profil belajar mereka, yang diperkuat oleh keterampilan coaching dalam menggali dan mengoptimalkan potensi siswa.
Ketiga pendekatan ini bersama-sama membentuk strategi yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, mendukung perkembangan pribadi dan akademik siswa, serta memberdayakan guru sebagai pemimpin pembelajaran yang adaptif dan reflektif.
Keterampilan coaching sangat terkait dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Melalui coaching, guru (coach) dapat mengembangkan keterampilan penting seperti mendengarkan aktif, kehadiran penuh, dan mengajukan pertanyaan berbobot, yang membantu mereka memahami dan memberdayakan siswa serta rekan kerja. Coaching mendorong refleksi diri, kolaborasi, dan pengambilan keputusan yang efektif, sehingga guru dapat memimpin proses pembelajaran dengan lebih baik, mengoptimalkan potensi individu, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung.
dalam pelaksanaan Coaching diperlukan beberapa Kompetensi Inti Coaching, yaitu:
1) Mengajukan pertanyaan berbobot: Pertanyaan yang diajukan coach diharapkan menggugah pemikiran coachee, mengungkap emosi atau nilai dalam diri, dan mendorong tindakan pengembangan diri. 2) Mendengarkan aktif: Kemampuan fokus pada apa yang dikatakan lawan bicara dan memahami makna keseluruhan, dan 3) Kehadiran penuh (presence): Kemampuan hadir sepenuhnya untuk coachee, membantu dalam percakapan coaching dengan keselarasan badan, pikiran, dan hati.
Alur Percakapan TIRTA: Tirta berarti air. Jika murid diibaratkan sebagai air, biarkan mereka mengalir bebas hingga potensi mereka. TIRTA terdiri dari:
- Tujuan awal: Kesepakatan antara coach dan coachee tentang tujuan pembicaraan.
- Identifikasi: Penggalian dan pemetaan situasi yang dibicarakan.
- Rencana Aksi: Pengembangan ide atau solusi alternatif.
- Tanggungjawab: Komitmen atas hasil dan langkah selanjutnya.
Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching: Melibatkan kemitraan kolaboratif antara supervisor dan guru, bertujuan mengembangkan kompetensi individu secara berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu. Pelaksanaan supervisi akademik melibatkan perencanaan, observasi pembelajaran, dan tindak lanjut berupa coaching, diskusi, dan kegiatan pengembangan diri guru.
Pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran melibatkan empat paradigma berpikir coaching: fokus pada coachee, terbuka dan ingin tahu, kesadaran diri yang kuat, serta mampu melihat peluang baru. Kompetensi inti seperti kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot perlu dipahami dan dilatih terus menerus. Teknik RASA dari Julian Treasure dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot berdasarkan hasil mendengarkan aktif.
Peningkatan keterampilan coaching akan meningkatkan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran, membantu mereka menggali potensi diri dan komunitas sekolah, serta memotivasi sebagai individu pembelajar berkelanjutan yang berfokus pada kualitas pembelajaran yang berpihak pada siswa.
Demikianlah Koneksi Antar Materi Modul 2.3 yang saya sampaikan kali ini.
salam guru penggerak.
bergerak, tergerak, menggerakkan.
Komentar
Posting Komentar