Perjuangan Memperebutkan Kemerdekaan di Melawi tahun 1946
| |
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kabupaten Melawi adalah sebuah kabupaten di provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Melawi berbatasan dengan kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang di sebelah utara, dengan kecamatan Tumbang Selam, Kabupaten Kota Waringin Timur provinsi Kalimantan Tengah di sebelah selatan, dengan kecamatan Serawai Kabupaten Sintang di sebelah timur dan dengan kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang di sebelah barat. Kabupaten ini terletak di antara garis 07′-1020′ Lintang Selatan dan 1117′-11227′ Bujur Timur. Ibukota kabupaten Melawi adalah Nanga Pinoh, yang biasa dikenal dengan sebutan Kota Juang.
Bangsa yang besar adalah, bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya. Kalimat tersebut tercetus dari Presiden Soekarno, yang mengamanatkan kepada seluruh bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaan.
Seperti kabupaten-kabupaten lain, di kabupaten melawi juga memiliki cerita sendiri tentaang perlawanan penjajahan. Di kabupaten Melawi juga terdapat peninggalan-penilnggalan sejarah. Perjuangan para tokoh masyarakat juga berperanan di dalam perjuangan memperebut kemerdekaan dari tangan penjajahan Belanda maupun Penjajahan Jepang.
Dikatakan bahwa di Melawi banyak terdapat pertumpahan darah akibat peperangan melawan Penjajahan. Hal ini terbukti dengan adanya Benteng bekas pertahan pemerintahan Belanda yang masih bisa di lihat sampai saat ini bertempatkan di pantai sungai Pinoh tepatnya Desa Tanjung Niaga, Nanga Pinoh.
| 1 |
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan muncul beberapa pertanyaan yang menjadi Rumusan Masalah dalam kalah ini. Rumusan Maslah tersebut daiantaranya adalah:
1. Bagaimana persiapan sebelum peperangan ?
2. Apa tujuan peperangan dan apa alasan terjadinya peperangan ?
3. Bagaimana proses terjadinya peperangan tersebut ?
4. Bagaimana nasib para pejuang kemerdekaan tersebut dan Bagaimana kehidupan Masyarakat melawi setelah peperangan tersebut berakhir ?
C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti dan menuliskan sejarah peperangan pejuang di Melawi melawan penjajahan Belanda setelah Kemerdekaan. Peperanagn tersebut terjadi sebagai reaksi dalam menyambut Proklamasi yang telah di bacakan oleh Ir. Suekarno di Jakarta tanggal 17 agustus 1945.
Selain tiu penulis juga menceritakan kehidupan masyrakat dan para pejuang kemerdekaan setelah terjadinya pertumpahan darah memperebutkan kemerdekaan.
D. Tujuan Peneletian
Penelitian ini bertujuan untuk, menambah ilmu pengetahuan kita bangsa Indonesia, Khususnya Kalimantan Barat untuk lebih dalam lagi mempelajari sejarah lokal yang ada di Tanah Borneo sendiri. Malakalah ini mudah-mudahan akan menambah semangat kita untuk bersama-sama terus mencari sejarah lokal yang belum tergali.
Selain itu Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkenalkan kepada khalayak ramai bahwa di Melawi juga terdapat peninggalan sejarah dan kisah-kisah sejarah pada zaman penjajahan Belanda.
Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan menjadi penyemangan supaya nantinya akan lebih banyak lagi peneliti yang meneliti dan menulias tentang sejarah lokal yang ada di Kalimantan Barat, sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai pengingat kembali peristiwa silam yang bisa di jadikan inspirasi untuk mengusi pejuangan kemerdekaan di masa sekarang.
Sesuai dengan pesan Nara Sumber peneliti yang mengatakan “Ikin masa tuk tingal nyaman udah tingal ngisik kemerdekaan jak am, nesik kian beperang segala macam kami dolok tih” yang artinya “Kalian masa sekarang sudah enak sudah tinggal mengisi kemerdekaan, tidak berperang seperti kami dulu”.
E. Manfaat Penelitian
Setelah melakukan penelitian ini, dengan cara mencari sumber data baik sumber primer dan sekunder. Penelitian ini bermanfaat buat kita, di antaranya adalah sebagai proses transfer ilmu mengenai sejarah perjuagan di Kota Juang ini. Selain itu penelitian ini juga bermanfaat sebagai proses menceritakan kembali sejarah perjuangan yang ada di Melawi, karena memang Sejarah perjuangan di Melawi sulit sekali yang mengetahuainya, padahal di Melawi banyak terjadi pergolakan, bukan Cuma di Nanga Pinoh, tapi juga di daerah lain seperti di Desa Madong Raya, Kecamatan Tanah Pinoh, di Serawai, Nanga Kayan, dan Nanga Sokan.
F. Kajian Pustaka
1. Sumber Primer
Penulis merasa tertarik untuk meneliti sejarah tentang keberadaan dan perlawanan pejuang dengan Belada, karena di adanya Bekas Benteng Pemerintahan Kolnial Belanda di Tanjung Niaga, Nanga Pinoh, Melawi.
Selain itu, hasil Wawancara dengan salah seorang Pejuang Merah Putih Sekaligus teman dekatnya Kapten Markasan yaitu Kopral Nurbet pada tanggal 26 Desember 2011 di rumah kediamannya di Madong Raya, kecamatan Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi, beliau mengatakan bahwa perjuangan Pejuang Merah Putih sudah sangat berani walaupun dengan persenjataan minim, beliau juga mengatakan bahwa kekuatan mereka di bantu oleh daerah lain seperti Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
2. Sumber Sekunder
Tugu Perjuangan 1946 di Madong Raya, Tanah Pinoh, Melawi. Yang di bangun berdekatan dengan makam kelurga Kapten Markasan. Tugu ini sebagai tanda bhwa di Madong pernah terjadi pergolakan antara Belanda dengan Pejuang Merah Putih.
Untuk mencari data lain, peneliti juga mewawancarai anak dari Kapten Markasan, yang kebetulan juga seorang pejuang, tapi lain tempatnya. Anak Kapten Markasan Tersebut bernama Ungal Yo. Di komplek Tugu Perjuangan 1945, Madong Raya, tanggal Menurut Ungal Yo Kapten Markasan tiba ke Madong setelah berhasil memusnahkan Belanda di Nanga Manyol, Kalimantan Tengah. Dan datang ke Madong atas permintaan salah satu sepupu dari kapten Markasan.
Dalam buku Sejarah Revolusi Indonesia 1945-1950. Menceritakan tentang kemerdekaan yang telah terjadi di Jakarta. Buku ini ditulis oleh Garda Maeswara.
Dalam Buku karangan Syahzaman B.A. dkk. Rintisan Sejarah Kerajaan Sintang. Yang di tulis tahun 1967. Menceritakan bagaimana persiapan dan rekasi pejuang Melawi setelah mendengarkan berita kemerdekaan Indonesia.
Selain itu Buku yang di tulis Drs. Ade Djamadin Achyan, tahun 2008 yang berjuudul Perjuangan Etnis Dayak Menentang Penjajahan Belanda Di Kerajaan Sintang. Menyebutkan beberapa orang yang menjadi pelopor perjuangan di Melawi, seperti Bagindo Jalaluddin dan Kapten Markasan serta bebrapa tokoh lainnya.
Di berbagai artikel yang ada di internet, peneliti mengambil sumber dari internet, yaitu artikel yang berjudul, Bagindo Jalaludin Khadim Komandan Laskar Merah Putih. Yang di post kan oleh Borneo Tribun, pada Kamis, 20 Agustus 2009. Dengan alamat situs:http://www.borneotribune.com/melawi/bagindo-jalaludin-khatimkomandan-laskar-merahputih.html. dalam artikel tersebut menceritakan tentang kehidupan Bagindo Jalaluddin dan Menceritakan Tentang Laskar Merah Putih, yang merupakan sebutan lain dari Pejuang Merah Putih.
G. Kerangka Teori
Dalam melakuakan penelitian ini penulis menggunakan pendekatan sosial, karena dalam mencari sumber data, peneliti terlebih dahulu membaur dengan masyarakat yang akan di teliti sebelum mealakuakn wawancara langsung dengan beberapa orang yang dianggap tahu akan sejarah memperebutkan kemerdekaan di melawi. Setelah itu barulah melakukan wawancara.
Setelah mengaitkan antara beberapa teori dan beberapa hasil pencarian data. Maka dilakukan pembandingan atara data satu dengan data yang lain, maka hasil dari data-dat tersebut dituliskan dalam isi makalah ini. Penulis juga mengambil sumber dari berbagai buku.
H. Metode Penelitian
1. Historistis
Historistis merupakan langkah awal dalam penelitian sejarah untuk berburu dan mengumpulkan berbagi sumber data yang terkait dengan masalah yang sedeang diteliti.misalnya dengan melacak sumber sejarah tersebut dengan meneliti berbagai dokumen, mengunjungi situs sejarah, mewawancarai para saksi sejarah.
2. Kritik (Verifikasi)
Kritik merupakan kemampuan menilai sumber-sumber sejarah yang telah dicari (ditemukan). Kritik sumber sejarah meliputi kritik ekstern dan kritik intern.
a) Kritik Ekstern, di dalam penelitian ilmu sejarah umumnya menyangkut keaslan atau keautentikan bahan yang digunakan dalam pembuatan sumber sejarah, seperti prasasti, dokumen, dan naskah.Bentuk penelitian yang dapat dilakukan sejarawan, misalnya tentang waktu pembuatan dokumen itu (hari dan tanggal) atau penelitian tentang bahan (materi) pembuatan dokumen itu sndiri.Sejarawan dapat juga melakukan kritik ekstern dengan menyelidiki tinta untuk penulisan dokumen guna menemukan usia dokumen. Sejarawan dapat pula melakukan kritik ekstern dengan mengidentifikasikan tulisan tangan, tanda tangan, materai, atau jenis hurufnya.
b) Kritik Intern, merupakan penilaian keakuratan atau keautentikan terhadap materi sumber sejarah itu sendiri. Di dalam proses analisis terhadap suatu dokumen, sejarawan harus selalu memikirkan unsur-unsur yang relevan di dalam dokumen itu sendiri secara menyeluruh. Unsur dalam dokumen dianggap relevan apabila unsur tersebut paling dekat dengan apa yang telah terjadi, sejauh dapat diketahui berdasarkan suatu penyelidikan kritis terhadap sumber-sumber terbaik yang ada.
3. Peripikasi
Peripikasi adalah menafsirkan fakata sejarah dan merangkai fakta tersebut hingga menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Dari berbagi fakta yang ada kemudian perlu disusun agar mempunyai bentuk dan struktur. Fakta yang ada ditafsirkan sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada, untuk menghindari suatu penafsiran yang semena-mena akibat pemikiran yang sempit. Bagi sejarawan akademis, interfretasi yang bersifat deskriptif sajabelum cukup. Dalam perkembangan terakhir, sejarawan masih dituntut untuk mencari landasan penafsiran yang digunkan.
4. Historiografi (Penulisan Sejarah),
Historiografy (Penulisan Sejarah), adalah proses penyusunan fakta-fakta sejarah dan berbagai sumber yang telah diseleksi dalam sebuah bentuk penulisan sejarah. Setelah melakukan penafsiran terhadap data-data yang ada, sejarawan harus sadar bahwa tulisan itu bukan hanya sekedar untuk kepentingan dirinya, tetapi juga untuk dibavca orang lain. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasa penulisan nya. Sejarawan harus menyadari dan berusaha agar orang lain dapat mengerti pokok-pokok pemikiran yang diajukan.
| |
PEMBAHASAN
A. Persiapan Sebelum Peperangan
Setelah sekian lama berada dalam belenggu penjajahan, tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka. Proklamasi kemerdekaan tersebut di Proklamasikan oleh Ir. Suekarno dan Drs. Moh Hatta atas nama bangsa Indonesia, yang bertempatkan di rumah kediaman Ir. Suekarno di jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta, sekitar pukul 10.00 WIB.
Sambutan dan dukungan terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah cukup luas di kalangan masyarakat Indonesia. Berita tentang proklamasi tersebut menyebar ke hampir seluruh penjuru anah air. Berita tersebut menyebar melaului media massa surat kabar, radio maupun dari mulut ke mulut.
Setelah kemerdekaan diproklamirkan bukan berarti perjuangan bangsa sudah selesai, tetapi tetap berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan yang sudah diperoleh. Sambutan meriah daerah-daerah di tanah air pasca kemerdekaan sebagai wujud kegembiraannya yang telah lma diperjuangkan ditunggu-tunggu telah tiba.
Hal ini tidak terlepas dari peran para tokoh yang berjuang menyebarkan berita Proklamasi Kemerdekaan. Sarana penyebaran berita Proklamasi Berita proklamasi yang telah meluas di Jakarta segera disebarluaskan keseluruh wilayah Indonesia bahkan keseluruh dunia.
| 8 |
Ustaz Bagindo Jalaluddin Khadim adalah seorang yang berasal dari Padang, yang datang ke Melawi dan menjadi guru di salaha satu Madrasyah yang ada di Melawi. Di kalangan teman seperjuanganna beliau di kenal dengan sebutan Guru Jalaluddin. Kemudian, mereka berdua berdialog dengan Haji Yusuf Haris, tentang situasi politik di Sumatera, dikarenakan H. Yusuf Haris baru datang dari Sumatera dengan menumpang perahu layar milik Sy. Yusuf Mubarak dari Pulau Bangka menuju Ketapang.
Berita proklamasi pada waktu itu simpang siur informasinya. Setelah mendapatkan penjelasan yang pasti dari H.Yusuf Haris, barulah Al-Ustadz Bagindo Jalaludin tidak ragu lagi. Setelah itu, Bagindo Jalaludin bersama A.M Djohan selalu berdiskusi secara rahasia, bagaimana caranya menyambut proklamasi kemerdekaan, agar tidak diketahui oleh tentara Netherland Indies Civil Administration (NICA).
Dari hasil diskusi tersebut, tercetuslah rencana membentuk Badan Organisasi Pemberontakan Merah Putih (BOPMP), yang merupakan cabang dari yang ada BOPMP di Sintang, sebagai media menyatukan visi dan misi dari para pejuang pada waktu itu. Badan Organisasi Pemberontakan Merah Putih ini, semula hanya kegiatan politik yang menentang kaum penjajah kolonial Belanda di Nanga Pinoh dan sekitarnya. Akhirnya, menjadi satu badan yang mengkoordinir kekuatan, untuk melakukan perlawanan dengan bersenjata dalam menentang kaum penjajah. Pasukan dari BOPMP ini di sebut Pejuang Merah Putih, karena disetiap peperangan kepala setiap pasukan di ikatkan kain berwarna merah putih.
Badan pengurus yang semula terdiri dari beberapa orang, kemudian berkembang jadi lebih kuat dan disesuaikan dengan keadaan. Susunan kepengurusan yang terpilih pada bulan April 1946, menempatkan Bagindo Jalaludin sebagai ketua.
Sedangkan bidang penerangan atau propaganda dipegang oleh M. Nawawi Hasan. Selain itu, dalam kepengurusan tersebut juga terdapat beberapa bidang lain, dalam menjalankan misi perjuangan. Seperti Bidang Pasukan Pengempur dibawah kepengurusan Muhammad Saad Aim. Bidang Perhubungan dipegang oleh Abang Patol. Bidang Administrasi Abang Tahir dan A.Yusman Badwi, serta bidang Perlengkapan Usman Ando.
Tidak lama kemudian, terjadi perubahan kepengurusan. Sususan kepengurusannya pada Oktober 1946. Dimana, dalam perubahan tersebut, Bagindo Jalaludin masih dipercaya menjadi Ketua, didampingi M. Nawawi Hasan sebagai wakilnya. Sedangkan Sekretaris Satu dan Dua, dijabat oleh A.Yusman Badwi dan Usman Ando. Bidang Pasukan Pengempur masih dijabat M. Saad Aim. BOPMP, pada masa itu menjalin hubungan kerjasama serta koordinasi yang baik dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, dengan organisasi-organisasi BOPMP lainnya di Sintang, Pontianak, serta Kalimantan Tengah.
Kelompok Pejuang Merah Putih merupakan salah satu kelompok perlawanan rakyat yang sangat gigih dan heroik. Penuh dengan nilai-nilai kepahlawanan. Dimana, darah dan nyawa sebagai taruhannya dalam mengusir para penjajah. Tidak hanya itu, Pejuang Merah Putih merupakan kelompok Pejuang yang terorganisir dengan baik, pada masa itu.
Selain itu para pejuang Melawi juga meminta bantuan kepada para pejuang lain yang ada di daerah sekitarnya seperti meminta bantuan kepada Sintag, Kaltim dan Kalteng. Di Melawi sendiri selain BOPMP, juga terdapat kesatuan lain yang Menjadi salah satu sarana perjuangan memperebutkan kemerdekaan yaitu Kesatuan Batalyon Mandau Telabang yang di pimpin oleh seorang asal Kalimantan Tengah yang bernama Kapten Markasan. Nasab beliau adalah Markasan bin H.M Sa’ad bin Cik Aji.
Sebenarnya Kapten Markasan adalah pejuang asli Kalimantan Tengah tepatnya di Teluk Mayol. Beliau datang ke Melawi setelah beliau dimintai bantuan oleh pepupunya yang ada di Madong Raya, salah satu tempat yang menjadi daerah perjuangan kemerdekaan. Beliau di panggil ke Melawi setela keberhasilnya beliau menumpas Belanda di Teluk Mayol, Kapten Markasan merupakan anak buah dari Kapten Haryono.
Selain dua organisasi tersebut, yang ikut berperang memperebutkan Kemerdekaan di Melawi adalah dari Banjarmasin yang di sebut dengan pasukan Beruang Merah dan juga bantuan dari Kalimantan Tengah yang di sebut dengan pasukan Anjing Hitam, dan bergabunglah di Melawi dengan Laskar Merah Putis, tiga organisasi ini tergabung dalam satu kesatuan yaitu Kesatuan MN 1001 MTKI/TNI.
Dengan bergabungnya berbagai organisasi perjuangan tersebut, maka sudah cukup kuatlah kekuatan, dan dengan demikian dirsa sudah siap untuk menyerang bentaeng Belada di Kampung Tanjung Niaga. Menurut Nara Sumber yang merpakan salah satu pejuang yang ikut berperang dimasa itu, penyerangan di Pimpin oleh Kapten Markasan dibantu oleh Letnan Ohon, Sersan Dumek, Kopral Nurbet dan Guru Jalaluddin.
B. Peperangan Memperebutkan Kemerdekaan
Kemerdekaan Indonesia direbut melalui perjuangan cukup panjang dengan penuh tetesan keringat dan darah, serta nyawa yang tidak ternilai harganya. Para pejuang pendahulu berjuang tanpa pamrih dengan semboyannya “Merdeka atau Mati”.
Begitu pula di Kabupaten Melawi, yang pada zaman kolonial Belanda, para pejuang terdahulu merebut kemerdekaan dengan semangat berkorban. Melalui Pejuang Merah Putih dibawah komandan Bagindo Jalaludin, merupakan organisasi kelompok pejuang yang terorganisir dengan baik pada masa itu.
Dengan gabungan kekuatan yang sudah ada, membuat tentara Belanda gentar. Belanda menarik mundur pasukannya baik yang ada di Sintang dan Nanga Pinoh, pasukan tersebut ditarik ke Sanggau. Kecuali Polisi Belanda orang Indonesia. Mereka tetap berada diposnya.
Setelah dirasa sudah cukup persiapan peperangan, maka pada tanggal 10 November 1946, pada dini hari, maka dailakukanlah penyerangan terhadap benteng Belanda di Tanjung Niaga.
Kopral Norbet sendiri pada waktu itu ikut berperang, beliau berangkat dari Madong Raya bersama tiga temannya bernama Kapten Markasan, Letnan Ohon, dan Sersan Dumek. Mereka berangkat dari Madong Raya pada malam hari dengan menggunakan perahu kecil hal ini supaya tidak di ketahui oleh pihak musuh. Mereka singgah di Tanjung Elai, yang dikatakan bahwa di sinilah Markas Pejuang Merah Putih, akan tetapi tidak ada bukti fisiknya. Di Tanjung Elai sudah berkumpul para pejuang lain yang siap untuk menyerang benteng Belanda. Di Tanjung Elai mereka beristirahat di rumah seorang penduduk bernama Pak Muntot.
Di sini semuanya sudah di sediakan, makanan sudah di sediakan oleh para gadis setempat, dan pasokan makanan tersebut juga di pasok atau di bantu oleh pejuang yang ada di Sintang. Selain itu daerah lain yang di jadikan tempat sumber dan pemasok makanan adalah di daerah Serawai, Madong, Sayan dan Sokan.
Dalam masa penyerangan menduduki benteng Belanada tersebut, telah menelan banyak korban jiwa. Pada 10 November 1946, dini hari. Pada waktu itu Benteng Belanda di pimpin oleh Controleur L.J Herman, yang di juluki Komandan Gila oleh para pejuang sebagai bukti kekesalannya terhadap Belanda.
Peperangan berlangsung cukup sengit dan banyak menelan Korban baik dari kubu Pejuang Melawi maupun dari kubu Belanda. Kopral Norbet pada waktu itu berperan sebagai penembak jitu dengan menggunakan Senapan Lantak, dan melauli peperaang yang cukup lama akhirnya peperanagn tersebut di menangkan oleh Pejuang Melawi.
Hal ini di tandai dengan berteriaknya Controleur L.J Herman, dengan teriakan “ Jangan ribut…. jangan ribut…. kami nyerah” setelah teriakan tersebut disusullah dengan berkibarnya bendera putih sebagai tanda pihak Belanda sudah mengakui kekalahannya.
Setelah keberhasilan menduduki Benteng Belanda tersebut, Senjata Belanda di ramapas dan di bagi-bagikan kepada pejuang lain dan juga sebagian diserahkan kepada Pejuang Merah Putih Sintang.
Dengan kemenangan tersebut maka dikibarkanlah bendera Merah Putih di Melawi, tepatnya di Nanga Pinoh pada esok harinya tanggal 11 November 1946. Bedera Merah Putih berkibar dengan megahnya dan disambut Rakyat sangat bergembira pada waktu itu, melihat bendera Indonesia berkibar melambai-lambai di Bumi Persada.
Kemudian, Bagindo Jalaludin selaku komandan Pejuang Merah Putih, memerintahkan 12 orang anggotanya untuk mudik ke Nanga Serawai, menangkap Controleuer L.J Herman pada 12 November 1946, dikepalai Prajurit Usman Cantik. Proses penangakapan berlangsung tanpa perlawanan, hingga akhirnya Controleuer L.J Herman berhasil ditangkap. Selaku tawanan perang, Controleuer L.J Herman dibawa ke Nanga Pinoh, dan langsung dibawa Bagindo Jalaludin ke Kota Baru di Sungai Pinoh. Kemudian dengan motor speed bersama Hasyim Kuasa, Polisi Pamong Praja dibawa ke Madong, lalu diserahkan kepada penjagaan Bilal Dodong B.H.M Sa’ad dan menjadi tanggungjawabnya.
Bagindo Jalaludin kemudian kembali ke Nanga Pinoh. Akan tetapi, malang tidak dapat ditolak, mujur tidak dapat diraih, pada tanggal 15 November 1946, siang hari, tentara KNIL datang dari Pontianak dengan tiga buah Motor Nirub. Membawa pasukan Belanda dan persenjataan modern yang lengkap. Sembelum mendarat, pasukan Belanda menembakkan peluru secara membabi buta.
Kemudian terjadilah pertempuran sengit antara pasukan kesatuan Pejuang Merah Putih yang bersenjatakan Karaben dan Golok, dengan tentara KNIL yang memiliki persenjataan canggih serta memadai. Menurut Kopral Norbet, tiga buah kapal nirub tersebut bisa sampai ke Nanga Pinoh, dikarenakan kapal tersebut tidak di cegat oleh Pejuang Merah Putih Sintang, karena memang tiga buah kapal nirub trsebut bersenjatakan lengkap dengan meriamnya, jadi Pejuang Merah Putih Sintang tidak berani mencegatnya.
Dengan persenjataan yang sealakadarnya yang dimiliki oleh Pejuang Melawi maka sudah di pastikan pejuang Melawi mengalami kekalahan. Kedatangan tiga buah kapal Nirub tersebut langsung singgal di pantai sungai tepat di Kampung Liang, kampong yang berseberangan dengan Kampug Tanjung Niaga, yang menjadi tempat terletaknya Benteng Belanda.
Kapal Nirub tersebut langsung mengarahkan Meriamnya kearah Benteng yang telah di kuasai oleh Pejuang, dan dengan tepatnya maka di tembaklah Benteng tersebut. Dengan demikian berhamburanlah para pejuang, ada yang kabur dan ada juga yang meninggal di tempat. Hanya dengan satu tembakan meriam, pasukan pejuang sudah dikalahkan.
Dalam pertempuran tersebut, gugur beberapa pejuang. Diantaranya, Unut, Hasyim, Djakfar, Yusuf, Basri dan Sulaiman. Mereka dimakamkan di Taman Makam Nanga Pinoh. Kemudian oleh Kodim 1205 Sintang, kerangka tulang mereka dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Kota Sintang. Yang kemudian dipindahkan lagi ke Makam Pahlawan Menyurai, Sintang.
Raden M, Syamsudin bin Raden Panji Abdurahman, Raja Sintang ke 28, dipecat dari pangkatnya akibat membuat pernyataan bahwa, rakyat Kerajaan Sintang berdiri di belakang BOPMP Republik Indonesia. Setelah itu, Pejuang Merah Putih mundur dan masuk ke hutan di hulu Sungai Pinoh.
Sedangkan Bagindo Jalaludin beserta isteri dan anaknya, menyelamatkan diri ke dalam hutan, setelah sebelumnya mendapat ancaman untuk dibunuh.
C. Kehidupan Setelah Peperangan
Setelah kekalahan yang di alami para pejuang tersebut, banyak para pejuang yang gugur dan ada pula yang lari ke hutan maupun ke daerah lain. Begitu juga dengan pimpinan Pejuang Merah Putih, Bagindo Jalaluddin Khadim. Beliau beserta keluarga lari dari Nanga Pinoh dengan didampingi seorang penunjuk jalan, seorang lelaki Suku Dayak bernama Dayah atau Taher Bora. Melalui kampung-kampung seperti Nanga Kelawai, Sungai Mangat, Kayu Baong, Nanga Sasak, Mancur, Entapang, Sapau di Kalteng.
Setelah terus menghindar dari kejaran tentara KNIL, akhirnya Bagindo Jalaludin beserta anak dan isterinya tertangkap oleh tentara KNIL dari Kalimantan Selatan. Anak dan isterinya dilepaskan dan akhirnya kembali ke Kota Baru. Bagindo Jalaludin langsung dibawa ke Banjarmasin, kemudian diteruskan ke Jakarta, dan dipenjara di rumah tahanan Cipinang.
Dari Jakarta, selanjutnya dikirim ke Pontianak. Atas keputusan peradilan NICA Belanda, Bagindo Jalaludin Kahtim dihukum enam tahun penjara. Setelah perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Indonesia dan Belanda, yang menghasilkan penyerahan kedaulatan bangsa dari Negeri Belanda ke Republik Indonesia.
Pada 27 Desember 1949, Bagindo Jalaludin dibebaskan dari penjara. Dia melakukan sujud syukur. Dari hasil perjuangannya terdahulu, Bagindo melantunkan senandung yang berbunyi, “Dua kali perang tebidah. Naga Payak kubu belansai. Kalau dikenang masa yang sudah, air mata jatuh berderai.”
Pada tahun 1957, beliau jatuh sakit, akibat menderita sakit paru-paru dan dirawat di Rumah Sakit Umum di Sintang. Pada 1958, dalam usia 50 tahun, Bagindo Jalaludin wafat. Dia disemayamkan di kampung halamannya di Pariaman Padang, Sumatera Barat. Tepatnya di Alahan Tabek, Basuk Sikucur.
Sepeninggalan Bagindo Jalaludin, anak-anak Nanga Pinoh, khusussnya pelajar pada masa itu, oleh gurunya di sekolah dalam mengenang jasa para pahlawannya menyanyikan lagu perjuangan yang berbunyi, Gerilya Nanga Pinoh Dua Tiga Lusin, Senjatanya ada Dua Belas Pucuk Karaben. Selain Itu Pisau dan Siken, Penghulunya itu Bagindo Jalaludin.
Kapten Markasan dan Tk. Liwan merusaha mengkoordinir pasukan, tapi usaha tersebut sia-sia karena hubungan dari hutan ke hutan tidak menentu. Serangan pasukan Belanda tetap di luncurkan, hal ini mengghambat Pejuang Merah Putih untuk mngatur siasat kembali.
Kapten Markasan sendiri lari dan kembali ke kampong halamannya beliau. walaupun demikian beliau tetap di kejar oleh pasukan Belanda, karena memang Kapten Markasan merupakan pejuang yang berbahaya. Hingga akirnya Kapten Markasan wafat karena tertembak di Nanga Lakuk, wilayah Kalimantan Tengah, dan beliau di makamkan di Nanga Lakuk.
Selain itu Belanda mencurigai Pangeran Sari, kepala pemerintahan Kota Baru. Ia dituduh membelanjai pasukan pejuang, selain itu ia merupakan keluarga Kapten Markasan. Beliau di tangkap dan disiksa dan di bawa ke Pontianak dan wafat di Pontianak. Kampung Madong di bumi hanguskan Belanda.
Sampai sekarang nama kapten Markasan masih di kenang oleh Masyarakat Melawi, hal ini di buktikan dengan di namakannya nama jalan dengan nama Kapten Markasan di Nanga Pinoh. Selain itu, daerah tempat beliau pertama datang ke Melawi dan berdiam disana, yang merupakan tempat sepupunya yaitu Daerah Madong Raya.
Sekarang Desa Madong Raya Kecamatan Tanah Pinoh di bangunlah sebuah Monumen berupa tugu yang di beri nama Tugu Perjuangan 1946. Sebagai tanda di tempat tersebut merupakan salah satu tempat yang bersejarah dan banyak Melahirkan pejuang. Seperti Kopral Norbet, Sersan Dumek dan Letnan Ohon yang merupakan orang asal Madong Raya. Tugu Perjuangan 1946 di bangun di pesisiran Sungai Pinoh berdekatan dengan komplek makam keluarga Kapten Markasan serta pejuang di masa itu. Tugu ini di bangun di masa pemerintahan Gubernur Kadarusno. Gubernur Kadarusno sendiri yang datang ke Tanah Pinoh, ketika beliau hendak mendirikan Irigasi perairan Sawah di Sawah Tunjuk, Tanah Pinoh. Dalam kesempatan tersebut, dalam pidatonya beliau mengatakan, bahwa di Madong Raya harus di dirikan tugu karena di Madong Raya merupakan tempat yang bersejarah.
Setelah peperangan tersebut, seiring dengan perjalanan waktu, sedidikit demi sedikit pemerintahan Belanda di Melawi mulai pulang kembali ke Belanda, karena memang pemerintahan Belanda sudah berakhir di Indonesia. Dengan demikian kehidupan masyarakat sudah bebas, dan mulia mengikuti arus kehidupan yang layak, pemerintahan sudah mengikuti pemerintahan Pusat, kabupaten dan menjadi bagian dari kabupaten Sintang. Benteng yang menjadi pertahan pemerintahan Belanda masih bisa kita lihat sampai sekarang.
| |
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah Proklamasi kemerdekaan di Jakarata, maka mulai mennyebarlah berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru tanah air. Termasuk juga ke Melawi, dengan bantuan seorang penyebar berita kemerdekaan yaitu Haji Yusuf Haris Pada 15 Maret 1946. Beliau datang dari Sumatra melalui daerah Ketapang dan tiba di Melawi, setibanya di Melawi erita tersebut di ceritakan kepada Al-Ustadz Bagindo Jalaludin Kahtim dan A.M Djohan yang merupakan tokoh perjuangan dimasa itu. Menanggapi hal tersebut, maka di bentuklah BOPMP (Badan Organisasi Pemberontak Merah Putih) tujuannya adalah untuk berjuang dibidang politik, akan tetapi pada perkembangannya BOPMP ini menjadi wadah perlawanan terhadap penjajah bukan hanya melalui politik tapi juga perlawanan terang-terangan berupa peperangan. BOPMP ini dikenal juga degan nama Pejuang Merah Putih, Pejuang Merah Putih inilah yang nantinya menjadi pelopor perlawanan melawan tentara Belanda di bantu juga oleh organisasi perjuangan lainnya Seperti bantuan dari Kalimantan Timur yaitu pasukan Beruang Merah dan dari Kalimantan Tengah yaitu pasukan Anjing Hitam, yang bersatu dengan nama Kesatuan MN 1001 MTKI/TNI. Hal inilah yang memperkuat kembali kesatuan perjuangan di Melawi.
| 18 |
Setelah peristiwa tersebut, para pejuang melarikan diri, ada juga yang tewas di tempat dan ad juga yang ditangkap oleh Belanda setelah terjadi kejar-kejaran. Seiring dengan perjalanan waktu, pasukan Belanda mulai di tarik mundur kembali, karena Belanda di usir kembali oleh perjuangan rakyat Indonesia, begitu juga dengan di Melawi, Belanda juga ditarik mundur. Dan akhirnya berakhirlah pemerintahan Belanda di Melawi.
B. Saran
Setelah melakukan penelitian dan setelah menulis hasil penelitian, penulis menyarankan kepada pembaca untuk sama-sama mencari kembali sejarah-sejarah loal yang ada di daerah kita masing-masing, baik itu sejarah sebelum masuknya kolonial maupun dimasa kolonial dan bagaimana pejuangan memperebutkan kemerdekaan. Selain itu mengingat pentingnya sejarah bagi kita diharapkan setelah melakukan penelitian, maka hasil penelitian tersebut di tulis dan diperkenalkan kepada masyarakat supaya kita dapat mengambil pesan-pesan yang tersirat yang ada didalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Selain untuk memperkenalkan, diharapkan supaya dengan adanya penelitian dan penulisan sejarah, maka akan timbul rasa menghargai akan jasa-jasa pahlawan kemerdekaan, dengan begitu kemerdekaan Inonesia bisa terisi dengan hal-hal yang membawa kemajuan bagi Indonesia.
| |
Achyan, Ade Djamadin, Drs. 2008. Perjuangan Etnis Dayak Menentang
Penjajahan Belanda Di Kerajaan Sintang. Diterbit di Pontianak.
Maeswara, Garda. 2010. Sejarah Revolusi Indonesia 1945-1950. Narasi:
Yogyakarta.
Syahzaman B.A. dkk. 1967. Rintisan Sejarah Kerajaan Sintang.
Wawancara dengan Kopral Nurbet, di rumah kediamannya Madong Raya,
Kecamatan Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi. Tanggal 26 Desember, jam 15.55.
Wawancara dengan Ungal Yo, di komplek Tugu Perjuangan 1946, Madong
Raya, Kecamatan Tanah Pinoh, Kabupaten Melawi. Tanggal 26
Desember, jam 15.09.
______Bagindo Jalaludin Khadim Komandan Laskar Merah Putih. 20 Agustus
2009. [Online]. Tersedia:
khatimkomandan-laskar-merahputih.html. Di unduh
tanggal April 26, 2011, jam 17.36.
| |
Nama responden : Ungal Yo
Hubungan dengan objek penelitian : Salah satu anak dari Kapten Markasan
Waktu : 26 Desember 2011 (Jam 14.50-15.45)
Tempat : Tugu Perjuangan 1946, di Madong
Raya, Kecamatan Tanah Pinoh,
Kabupaten Melawi.
P : Bagaimana kabar bapak dan apa saja kegiatan bapak saat ini?
R : Saya baik-baik saja, saat ini saya hanya menjadi petani.
P : Bisa anda ceritakan bagimana perjuangan Kapten Markasan?
R : Kapten Markasan asalnya dari Nanga Lakuk, Kalteng. Beliau datang ke
Madong karena dimintai bantuan oleh sepupunya yang ada dai Maodng
untuk membantu perjuangan di Pinoh. Hal ini karena beliau sudah
berhasil memusnahkan penjajahan di Nanga Manyol, Kalteng, bersama
dengan seorang temannya.
| 21 |
| |
Nama responden : Kopral Norbet
Hubungan dengan objek penelitian : Salah satu Pejuang Merah Putih
Waktu : 26 Desember 2011 (Jam 15.55-16.30)
Tempat : Rumah kediaman Responden, Madong
Raya, Kecamatan Tanah Pinoh,
Kabupaten Melawi.
P : Apa kabar bapak sekarang?
R : Alhamdulillah sehat.
P : Bagaimana cerita tentang keikutsertaan bapak dalam peperangan
melawan Penjajahan?
R : Saya berperang melawan penjajahan sebanyak tiga kali, diantaranya
melawan penjajahan Jepang di Sanggau. Serta dua kali di Pinoh melawan
Belanda.
P : Selain bapak siapa saja teman bapak yang berasal dari Madong, dan
dengan apa bapak pergi ke Nanga Pinoh?
R : Kami waktu itu berperang melawan Belanda pada dini hari, sebelumnya
kami meginap dulu di Tanjung Elai, berangkat dari Madong malam hari
dan hanya kami tiga orang, yaitu saya sendiri, Kapten Markasan, Letnan
Ohon, dan Sersan Dumek. Kami berangkat dari Madong dengan
menggunakan perahu kecil dan berdayung secara diam-diam takut
ketahuan mata-mata Belanda.
P : Seperti apa gambaran peperangan memperebutkan benteng Belanda?
R : dini hari 10 september 1946, kami menyerang benteg Belanda, pada
waktu itu saya jadi penembak jitu dengan menggunakan senapan Lantak.
Penjaga menara saya tembak di tengkuknya. Seketika pempinan Belanda,
Komandan Gila, langsung menyerah dan berteriak
“ jangan Ribuuuut, Kamiiii nyeraah”
| 22 |
P : Apakah tidak ada banuan dari Belanda yang ada di Pontianak untuk
melawan Pasukan Pejuang?
R : Ada, tanggal 15 september 1946, datang tiga buah kapal nirub dan
menggempur pasukan pejuang yang sudah menguasai Benteng. Dan
pejuang mengalami kekalahan.
P : Apa ada bantuan untuk pejuang, misalnya dari daerah lain?
R : Ada, bantuan dari Kaltim yaitu pasukan Beruang Merah dan dari
Kalimantan Tengah yaitu pasukan Anjing Hitam. Dan gabungan itu
disebut dengan MN 1001.
Komentar
Posting Komentar